Latihan pada Rehabilitasi Stroke
Ditulis oleh perdosrijatim di/pada Minggu, Nopember 25, 2007
STROKE EXERCISES (courtesy dr.Damayanti Tinduh, SpRM)
1. TRADISIONAL (WESTCOTT & SWENSON)
- Penekanan pada pencegahan & perawatan kontraktur –>ROM exercises
- Memperkenalkan aktifitas mobilisasi dini
- Kompensasi sisi akit dengan menggunakan sisi sehatnya
- Latihan penguatan dengan tahanan
2. PROPRIOSEPTIVE NEUROMUSCULAR FASCILITATION (KABAT, VOSS & KNOT)
Metode latihan untuk merangsang respon mekanisme neuromuskuler melalui stimulasi proprioseptor.
Bertujuan memfasilitasi pola gerakan sehingga mencapai “functional relevant” –> memfasilitasi irradiasi impuls untuk tubuh bagian lain yang berhubungan dengan gerakan utama.
Menggunakan rangsangan proprioseptif (peregangan otot, gerakan sendi dan tahanan terhadap kontraksi otot sebagai input sensorik yang didesain untuk memfasilitasi kontraksi otot spesifik)
Tehnik :
1. Pemberian tahanan maksimal
2. Traksi & aproksimasi sendi
3. Quick stretch
4. Cutaneous pressure (hold & grip)
5. Gerakan sinergis (untuk memperkuat gerakan yang lemah)
6. Mempergunakan aba-aba yang sederhana (verbal)
7. Pola gerak : spiral – diagonal
Fasilitasi gerakan volunteer dengan pemberian tahanan maksimal : tahanan manual maksimal penjalaran kontraksi otot
Fasilitasi gerakan volunteer dengan refleks “Patterning Technique”
Stretch reflex : merangsang kontraksi otot secara reflektoris
Postural reflex : fasilitasi gerakan volunteer (TNR)
Righting reflex : stimulasi labyrinth –> resistive balancing (keseimbangan kepala saat duduk, berdiri, berjalan)
Inhibisi gerakan volunteer dengan refleks : menghindari grasp reflex
Inhibisi refleks oleh refleks yang lain : misalnya terapi dingin, dengan stimulasi fleksi extremitas inferior –> spastisitas extensor menurun
Fasilitasi gerakan volunteer oleh gerakan volunteer yang lain :
- irradiation –> penyebaran kontraksi otot dengan pola khusus (misalnya : tahanan fleksi extremitas inferior fasilitasi dorsifleksi ankle ; merangkak –> fasilitasi fleksi extremitas inferior –> ekstensor siku meningkat)
- successive induction : segera setelah refleks fleksi terjadi –> eksitabilitas refleks ekstensi akan meningkat (misalnya : kontraksi biceps dengan tahanan –> fasilitasi kontraksi triceps)
- Resistive reversal of antagonist :
1. Slow reversal of antagonist –> melalui LGS
2. Rhytmic stabilization –> tanpa gerakan sendi
3. Slow reversal hold –> isotonic & isometric
- Inhibisi refleks dengan gerakan volunteer : Reciprocal innervation –> saat agonis difasilitasi –> antagonis diinhibisi
- Fasilitasi yang bersifat spiral & antagonist : fleksi-ekstensi, adduksi-abduksi, rotasi eksterna-rotasi interna
3. MOVEMENT THERAPY (BRUNNSTORM)
Reedukasi otot menggunakan latihan refleks.
Dasar teori :
Kerusakan SSP telah menyebabkan evolusi terbalik & regresi kembali ke pola gerak filogenetik yang lebih tua (terjadi sinergi dan refleks primitive). Sinergi & refleks primitive ini dianggap sebagai bagian normal dari proses penyembuhan sebelum terbentuk pola baru.
Kombinasi eksteroseptif & proprioseptif
Tehnik :
1. Memberikan tahanan pada ekstremitas yang normal, tapping (input sensoris) & tehnik relaksasi
2. Diberikan sesuai dengan 6 stadium penyembuhan Twitchell :
1. Flasiditas
2. Spastisitas + onset sinergi
3. Peningkatan spastisitas & beberapa control sinergi volunteer
4. Penurunan spastisitas & peningkatan control sinergi volunteer
5. Tidak adanya control fungsi motorik dari sinergi
6. Gerakan sendi individual
3. Tahapan tehnik latihan :
Merangsang gerak sinergis (Associated Reaction Pathological Tonic Neck & Labyrinthine reflex)
Kontrol gerakan sinergi :
o Latihan lepas dari pengaruh pola sinergis (dengan gerakan kombinasi pola sinergis antagonis)
o Merangsang fungsi tangan & jari tangan secara volunteer
Tahap 1-3 : merangsang control volunteer sinergis & memakai gerakan ini untuk aktifitas yang bertujuan (ROM bahu, abd volunteer, untuk ADL stabilisasi obyek / memegang, menjinjing, dll)
Tahap 4-5 : mengontrol flexor & ekstensor sinergi sehingga penderita dapat melakukan aktifitas fungsional
Tahap 6 : melatih fungsi tangan ketrampilan tangan
4. NEURODEVELOPMENTAL TECHNIQUE (BOBATH)
Dasar teori :
pola gerakan patologis tidak boleh digunakan untuk latihan oleh karena penggunaan berulang jalur eferen patologis dapat menyebabkan ekspansi ke jalur normal. Menggunakan konsep hirarki fungsi SSP manusia, dengan komponen yang saling integral : input sensorik & system feedback motorik. Konsep motor relearning mungkin dapat berurutan seperti pada perkembangan normal
Berlawanan dengan Brunnstorm & PNF.
Prinsip :
1. Kontrol pola spastisitas dengan menghambat pola abnormal
2. Fasilitasi pola normal / refleks postural normal (righting & equilibrium reaction)
Tujuan :
1. Stabilisasi tonus postural
2. Inhibisi pola abnormal / gerakan abnormal
3. fasilitasi refleks otomatis & pola gerakan normal yang lebih selektif & persiapan ketrampilan fungsional
Tehnik :
1. Reflex Inhibiting Posture/pattern (RIP) : meletakkan anggota gerak dalam posisi pola antispastik
2. Key Point of Control (KPOC) : menghambat spastisitas & pola gerak abnormal sekaligus memberi fasilitasi pola gerak yang normal
a. Proximal KPOC (shoulder, hip, trunk)
b. Distal KPOC (tangan & kaki)
Tidak menganjurkan pemakaian alat bantu jalan, oleh karena lat NDT menekankan penggunaan & weight bearing pada sisi lumpuh
3. Push-pull technique : tehnik untuk menimbulkan ekstensi terutama pada lengan di mana fleksi lebih dominant
4. Placing & holding : mempertahankan posisi dalam RIP position
5. Tapping : pada otot antagonis dari otot yang spastik
5. SENSORY MOTOR APPROACH (ROOD)
Fasilitasi / inhibisi pergerakan melalui stimulasi proprioceptor, exteroceptor atau enteroceptor.
Teori : deficit motorik adalah hilangnya fungsi yang terjadi selama perkembangan sensorimotorik normal dipandang dari sudut pandang yang berhubungan dengan input sensorik
Stimulasi kulit untuk fasilitasi stabilisasi & mobilisasi otot :
1. Stimulasi free nerve ending :
Fast brushing pada kulit di atas otot stabilisator 30 menit sebelum terapi untuk memfasilitasi gamma motor neuron –> stabilitas otot proksimal sendi (bias dengan electrically powered brush)
Aplikasi dengan es (suhu 12-17oF) 3-5 menit memfasilitasi C fiber
2. Fasilitasi mobilizing muscle :
Quick stroking / icing pada tangan, kaki &/bibir
3. Stimulasi otot stabilisator :
Electric brushing / repetitive icing –> stimulasi stabilisator secondary muscle & inhibisi spastic mobilizing muscle



Dewi berkata
wah…jadi inget ujian,nih…btw makasih bgt artikelnya
perdosrijatim berkata
@ dewi
he he memory di uji sama pak bagyo ya dewi….soal ujiannya lain lho antara kamu+maya dan aku+jack…..
Alit berkata
Nah tulisan2 ini yang diperlukan bagi kita-kita yang belum jadi Esperem (eh mo diganti jadi Eskaefer ya …. setuju). Disebut juga E-cool (electronic cooliah..
perdosrijatim berkata
Ha ha alit kamu bisa saja..itu khan sudah ada dibuku rangkuman dokter maya cuman ini versi tulisnya aja tak sederhanakan. Lagian masih belajar masukin tabelnya karena setingan beda pada wordpress.
sibermedik berkata
assalamualaikum Wr Wb
Bagaimana mereduksi sisa-sisa parese (kelumpuhan)post stroke?
perdosrijatim berkata
Wa alaikum salam
Pada dasarnya pada penderita stroke terdapat 6 fase dari Brunstorm. Bila pada fase flaccid maka di gunakan latihan stroke untuk menumbuhkan reflekn dan gerakan sinergis. Bila sudah fase spastik, maka dengan latihan pola anti spastik. Sinergic pattern pada stroke dapat dicegah latihan yang benar. Untuk keterangan lebih lanjut maka hubungi dokter Rehabilitasi Medik terdekat. Salam
E I berkata
Sebetulnya semua itu ada , itu kan pelajaran alm Dr. Oemiyono dan Dr. Thamrin . Tapi ada yang menyadur lebih baik dari pada dulu . Terima kasih buat penyadurnya . Dewi itu ujianmukah ? Terima kasih buat yang menyadur . Jadi nggak usah bongkar bongkar buku kuno lagi , selamat !
tanpa nama berkata
minta penjelasan tentang definisi latihan mobilisasi donk!
sigit wahyudi berkata
makasih banyak ya artikelnya bagus….
karllo berkata
makasih artikelnya kalau bisa lebih banyak,,tahapan2nya perwaktu,atau tiap adaperkembangan apa perlu di tingkatkan latihanya
karllo berkata
makasih artikelnya kalau bisa lebih banyak,,tahapan2nya perwaktu,atau tiap ada perkembangan apa perlu di tingkatkan latihanya